by

Anjing Menggonggong, Erdogan Berlalu (28)

Oleh Nandang Burhanudin

“Turki kini menjadi salah satu dari 10 negara yang merancang dan membuat kapal perang mereka sendiri. Saya menyerukan produksi dan pembuatan beberapa kapal induk canggih. Selain UAV- drone jarak jauh, kami ingin mengembangkan kendaraan darat dan laut jarak jauh dengan remote control.

Kami ingin menjadi contoh di bidang industri pertahanan, tidak hanya mengikuti perkembangan yang lain”, pekik Presiden Erdogan, Minggu (23/8/20) saat upacara penyerahan sistem angkatan laut baru ke angkatan bersenjata, di galangan kapal di Tuzla, Istanbul.

Macron, Presiden Perancis mengeluhkan dengan apa yang ia sebut: Perluasan pengaruh Neo-Ottoman dan Islamisasi ala Turki, yang menurutnya akan membuat Turki lebih berbahaya daripada Iran. Kekhawatiran yang juga dirasakan Yunani, Israel. Wajar, Perancis adalah otak di balik revolusi Khumaini tahun 1979 dan sejauh ini, Iran menjadi “pemantik isu” yang cukup menakutkan rezim-rezim Teluk untuk kemudian merapat ke Israel. Perancis juga merasakan dampaknya, usai dikalahkan Turki di Libya dan pengaruhnya terganggu di Tanduk Afrika.

Mengapa Turki berubah menjadi kental spirit ekspansionis? Ada tiga pertimbangan yang mendasari perubahan strategis Turki. Pertama, stabilitas internal dan integritas teritorial. Kedua, ancaman yang dirasakan dari rival regional dalam mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amerika Serikat di Timur Tengah. Ketiga, kemandirian energi.

Poin pertama, kini Turki menjadi negara yang bertanggungjawab penuh terhadap area eks ISIS, PYD, PKK dalam radius 30 km ke dalam sepanjang 900 km perbatasan Syiria, Idlib dan sebagian provinsi Aleppo. Turki menyiapkan pelayanan publik mulai dari sekolah, RS, kampus, kantor polisi, KUA, logistik yang semua terhubung dengan provinsi terdekat di Turki.

Operator lapangan dikendalikan Pangdam bintang dua, bertanggungjawab kepada Mendagri dan Kemenhan Turki. Media Rusia memprediksi, area tersebut akan dijadikan seperti Republik Cyprus Turki di kemudian hari. Namun demikian, jika melihat pelayanan pemerintah Turki yang maksimal terhadal warga Syiria, mayoritas warga Syiria terutama yang Sunni lebih memilih bergabung dengan Turki daripada dengan Assad.

Masih dalam koridor stabilitas regional, agresivitas Turki disebabkan perilaku Mesir, Yunani, Siprus, Israel, Italia, Yordania dan Otoritas Palestina yang mengecualikan Turki dalam pembentukan East Med Gas Forum (EMGF) pada awal 2019.

Dimana Turki yang memiliki garis pantai sangat panjang di Mediterania, dikecualikan dari upaya menjadikan Mediterania Timur sebagai pusat energi dunia. Sebuah upaya isolasi jahat. Namun semua berubah, usai Turki bekerjasama dengan Libya dan menemukan cadangan gas di Laut Hitam.

Semua tindakan ofensif agresif di atas tentu memerlukan kesiapan armada dan SDM tempur memadai. “Bangsa yang tidak memiliki kekuatan dan kemandirian dalam industri pertahanan strategis, maka ia tidak dapat menatap masa depan dengan percaya diri. Turki harus banyak membuat lebih banyak kemajuan dan menghasilkan produk inovasi terbaru dalam industri pertahanan”, tegas Presiden Erdogan.

Spirit ini menjadi gelombang besar yang mendorong kemajuan Turki. AKP meraih efek keseriusan mengelola negara. Ia semakin mengakar dan melebar pengaruhnya. Otomatis, karena mayoritas Muslim dan ahli waris Ottoman, mereka sulit menampik tuduhan Islamisasi. Namun jelas, Islam yang dibawa, bukan Islam puritan bukan pula Islam liberal.

Islam yang hatinya terpaut pada Baitullah, namun memiliki otak inventor, gerak programer, jiwa investor, aksinya produser. Hasilnya, Turki semakin agresif di kawasan. Tapi pendorong kuatnya: pragmatisme defensif, bukan ekspansionis.

PERDANANEWS