by

Nasib Petani Yang Mempunyai Anak Sekolah

Oleh Cak Windra

Gangguan perekonomian bukan hanya dialami oleh masyarakat yang tinggal di kota, khususnya di kota-kota besar saja. Masyarakat yang tinggal di desa juga mengalami hal yang sama terkena dampak pandemi yang sudah lebih dari empat bulan lamanya belum juga ada tanda mereda. Disamping itu bukan hanya buruh, karyawan, usaha kecil menengah dan perusahaan besar yang ikut merasakan dampaknya juga.

Para petani di desa turut merasakan hal serupa, walau tidak semuanya, hanya terbatas yang bagi mempunyai anak sekolah saja, dikarenakan harus membeli smartphone dan harus membeli pulsa untuk kuota internet, disebabkan belajar dari rumah. Untuk memenuhi itu semua, tentu seorang petani harus menjual gabah atau beras.

Agar jumlah uang bisa tercukupi untuk membelinya meski sebagian para petani tidak mempunyai penghasilan tetap lainnya. Jadi tidak ada pilihan lain hanya menjual gabah dan beras yang bisa dilakukannya. Dan dari itu tahun ini harus mengurangi jatah simpanan, untuk dimasa tanam nanti, yang biasanya simpanan tersebut sebagai modal yaitu dijual lalu uangnya untuk dimasa tanam beli pupuk, beli kebutuhan pertanian untuk mengelola sawah yang sedang ditanami padi dan biaya hidup sehari-hari.

Tetapi jatah tersebut sudah dijual sekarang sebelum masa tanam tiba dan sudah barang tentu gabah ataupun beras yang dijual jumlahnya tidak sedikit, lalu kegiatan penjualan tersebut tidak hanya sekali saja tapi berulang, sampai semuanya normal kembali lagi sebagaimana dahulu kala.

Memang kita semua harus mengikuti peraturan dari pemerintah, untuk sekolah dari rumah dalam rangka mencegah penyebaran dikalangan siswa sekolah. Karena itu juga untuk kebaikan anak-anak masa depan, yang akan melanjutkan perjalanan sejarah negeri ini. Kalau misalnya saja harga satu unit smartphone Rp. 1.000.000 lalu untuk membeli kartu perdana dan mengisi pulsa kuota internet Rp. 100.000 dan kalau itu jual gabah atau beras sudah berapa ratus kg saja. Belum lagi ditambah setiap bulannya harus mengisi ulang kuota internet, yang tidak bisa ditawar. Walaupun ada beberapa operator, yang memberikan kuota murah tetapi tidak semua orang mengetahui cara mendapatkanya, belum lagi kendala jaringan sinyal ganti kartu ini dan ganti kartu ini sampai benar-benar mendapatkan kartu yang bagus sinyalnya, sehingga lancar untuk belajar tanpa ada kendala.

Seperti halnya dengan Bapak Parjono, yang tinggal di Dukuh Morlaban, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur. Bapak yang sudah berusia 60 tahun itu, menuturkan setiap bulan kurang lebih menjual beras sebanyak 30 KG kadang juga lebih, hanya membeli kuota internet untuk kedua anaknya yang masih sekolah tentunya, yang dimana sebelumnya Bapak Parjono tidak pernah membeli kuota internet.

Tetapi demi kedua anaknya ia harus merelakan gabahnya, setiap bulan dibawa kepenggilingan padi, lalu setelah menjadi beras, berasnya dijual, itu semua dilakukan selama sekolah dari rumah. Dan gabah-gabah tersebut sebenarnya untuk nanti ketika musim tanam tiba, untuk biaya menggarap sawah membeli segala keperluan yang dibutuhkan petani dan untuk biaya keperluan sehari-hari.

Oleh dari itu bagi petani yang masih mempunyai anak sekolah, hendaknya diberikan perhatian khusus, paling tidak ketika musim tanam tiba nanti, diberikan pupuk gratis, agar bebannya tidak terlalu berat dan gabah yang tersisa, jangan sampai terjual kembali. Karena biasanya ada pengeluaran yang tidak terduga disebabkan hama yang menyerang dan hamanya lebih banyak dari yang tahun kemarin.

Biasanya memang seperti itu tahun kemarin hamanya sedikit tetapi tahun ini bisa banyak dan sebaliknya, sedangkan untuk membasmi hama tersebut petani harus mengeluarkan uang membeli obat tanaman, agar hama itu bisa benar-benar hilang. Jadi sangat dinanti-nantikan bantuan dari pemerintah untuk para petani, agar meringankan ketika dimasa tanam nanti, tidak berat dan tidak gali lobang tutup lobang, untuk meragati sawahnya.

Sehingga hasil panen nantinya tidak habis untuk membayar utang dan masa tanam yang kedua bisa sedikit stabil, karena masa tanam yang pertama tidak perlu lagi cari-cari pinjaman untuk membeli pupuk dan membeli pernak-pernik seperti obat pembasmi hama, agar hasil panennya bagus sesuai dengan harapan.

Salam semangat dan salam sukses untuk kita semua.

*) Cak Windra, Kontributor Perdananews.com juga Anggota Garbi Gunung Sindur, Kab Bogor.

PERDANANEWS