by

Sanusi Madli Sesalkan Pernyataan KPPAA Yang Menyudutkan Guru Dayah

Pemberitaan yang beredar dimedia massa terkait dengan dugaan oknum guru dayah telah melakukan dugaan pencabulan terhadap santriwati telah menuai reaksi dari banyak pihak, terutama dari kalangan dayah dan santri di Kota Banda Aceh, informasi tersebut merupakan pernyataan saudara Firdaus, Personil Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA) yang dimuat dibeberapa media.

Firdaus, personel KPPAA dalam rilisnya menuduh guru dayah di Banda Aceh mencabuli santri, bahkan dengan lantangnya ia mengatakan kasus pencabulan santri berulang kali terjadi di Dayah. (baca realis AJNN, Pencabulan Santri Kembali Terjadi, KPPAA: Dinas Dayah Sudah Diingatkan Berulang Kali, Rabu 2 Sept 2020).

Sanusi Madli, Yang merupakan punggawa salah satu Dayah di Kota Banda Aceh turut menyesalkan atas pernyataan yang terkesan tendesius terhadap guru dayah tersebut, informasi ini telah menimbulkan kesan negatif terhadap guru dayah dan ini dianggap tidak sesuai dengan fakta yang ada.

“Kami turut menyesali atas pernyataan tersebut, kenapa itu harus terjadi, padahal fakta di lapangan tidak demikian, yang bersangkutan bukanlah guru dayah serta tidak ada sangkut pautnya dengan dayah, karena itu kami berharap saudara firdaus dapat segera mengklarifikasi berita tersebut serta meminta maaf kepada masyarakat, terutama kalangan dayah,” kata sanusi, di Banda Aceh, Kamis (03/09/2020).

Masyarakat juga diharapkan untuk lebih selektif dalam membaca sebuah berita serta lebih berhati hati dalam mengshare berita atau informasi yang belum tentu benar, ditengah arus informasi yang begitu padat menuntun para pembaca dan pengkonsumsi informasi publik untuk bertabayyun.

“Harapannya ini menjadi pelajaran buat kita semua, agar lebih berhati hati dalam menyampaikan informasi, jangan sampai informasi yang kita sebarkan merupakan informasi yang keliru, apalagi hoaxs, ini sangat berbahaya, semoga masyarakat kita semakin cerdas dalam memfilter setiap informasi yang berkembang, dan selalu melakukan tabayyun,” tutup sanusi

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Dayah Kota Banda Aceh, Tgk. Tarmizi M.Daud, S.Ag, M.Ag, beserta tim melakukan investigasi terhadap tempat yang diduga sebagai tempat pelaku bekerja dan melakukan pencabulan, ternyata pelaku bukanlah guru dayah, dan lembaganya tidak terdaftar pada Disdik Dayah Banda Aceh.

“Berdasarkan hasil komunikasi dengan beberapa Pimpinan Dayah dan Guru Dayah, oknum guru tersebut salah seorang guru yang mengajar pada Rumah Yatim dan kini telah diselasikan oleh Forkopimda Kecamatan Meuraxa. Semua kegiatan di yayasan rumah yatim tersebut telah ditutup dan disegel,” ungkap Abi Pandrah panggilan akrab Tgk. Tarmizi M.Daud.

PERDANANEWS