Sosok Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad Yang Jadi Google Doodle

Berita79 Views

Perdananews Aceh — Sosok Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad Yang Jadi Google Doodle hari ini, Sabtu (5/11/2022) merupakan sosok ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19.

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad merupakan sastrawan Melayu yang memperkasai penyusunan dasar dasar tata bahasa Melayu pada abad ke 19.

Sosok Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad

Sosok keturunan Bugis dan Melayu ini lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, tahun 1808 dan meninggal di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga (masa kini bagian dari Provinsi Kepulauan Riau), tahun 1873.

Jenazahnya disemayamkan di Kompleks Pemakaman Engku Putri Raja Hamidah.

Beliau merupakan putra dari Raja Ahmad, yang bergelar Engku Haji Tua setelah melakukan ziarah ke Mekah.

Dia adalah cucu Raja Ali Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis, saudara Raja Lumu.

Fisabilillah adalah keturunan keluarga kerajaan Riau, yang merupakan keturunan dari prajurit Bugis yang datang ke daerah tersebut pada abad ke-18.

Bundanya, Encik Hamidah binti Malik Selangor adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga dari keturunan Bugis.

Raji Ali Haji dibesarkan dan banyak menjalani masa hidupnya di lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga, yang sekarang menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Riau.

Pada tahun 1822, Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan dari luar lingkungan kesultanan saat dirinya ikut ayahnya ke Betawi.

Beliau juga terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang kemudian menjadi standar bahasa Melayu.

Bahasa Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Mahakarya lainnya adalah Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya.

Kemudian, Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Bahasa Melayu Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.

Kemudian kitab Bustan al-Kathibin (1857) Kitab Pengetahuan Bahasa (1850-an) Intizam Waza’if al-Malik (1857) Thamarat al-Mahammah (1857).

Raja Ali Haji juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.

Beliau juga menulis Puisi Melayu lama dengan ciri khas istilah tasawuf, kata-kata kiasan, dan metafora.

Kemudian, Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (“Bingkisan Berharga” tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap.

Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya.

Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik).

Kemudian pada 5 November 2004, Pemerintah menetapkan Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional.

Sumber : Wikipedia, kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *